Agus Wira.
← Semua Artikel
ObsidianProduktivitasCatatan

Mulai Mencatat dengan Obsidian

3 mnt baca

Belakangan ini aku menemukan sebuah aplikasi bernama Obsidian. Awalnya aku melihatnya sebagai aplikasi note-taking biasa: tempat menulis sesuatu supaya nggak lupa. Setelah mulai memakainya, ternyata cara kerjanya membuka kemungkinan yang lebih luas.

Sekarang aku menggunakan Obsidian bukan hanya untuk menyimpan catatan, tetapi juga sebagai second brain—tempat di luar kepala untuk menaruh informasi, ide, dan hal-hal yang ingin kutemukan lagi nanti.

Apa yang Membuat Obsidian Berbeda?

Obsidian menyimpan catatan sebagai file teks berformat Markdown di dalam folder lokal yang disebut vault. Catatannya tetap berupa file biasa, bukan data yang hanya bisa dibuka lewat satu aplikasi.

Bagian yang paling menarik adalah cara catatan dapat saling terhubung. Dengan internal link seperti [[Python]] atau [[Machine Learning]], satu catatan bisa menunjuk ke catatan lain. Obsidian juga menyediakan backlinks, jadi aku bisa melihat catatan mana saja yang mengarah kembali ke topik yang sedang kubuka.

Hubungan tersebut juga dapat dilihat lewat Graph view. Setiap catatan ditampilkan sebagai titik dan setiap link menjadi garis penghubung. Tampilannya memang menarik, tetapi fungsi terpentingnya tetap ada pada hubungan antarnote, bukan pada graph yang kelihatan ramai.

Dari Note-Taking ke Second Brain

Sebelumnya aku menganggap mencatat sebagai aktivitas menyimpan informasi. Menulis sesuatu, menaruhnya di folder, lalu membukanya lagi kalau diperlukan. Masalahnya, sebuah catatan sering berdiri sendiri dan akhirnya terlupakan.

Konsep second brain membuatku melihat catatan dengan cara yang sedikit berbeda. Tujuannya bukan memindahkan semua isi internet ke dalam vault, tetapi membangun tempat untuk menyimpan hal yang memang ingin kupahami dan gunakan lagi.

Satu catatan tidak harus langsung panjang atau sempurna. Catatan tersebut bisa dimulai dari beberapa kalimat, kemudian dihubungkan dengan topik lain yang relevan. Seiring waktu, hubungan itu membantu menunjukkan bahwa hal yang kupelajari hari ini mungkin berkaitan dengan proyek, mata kuliah, atau ide yang pernah kutulis sebelumnya.

Obsidian juga tidak otomatis menjadi second brain hanya karena sudah di-install. Aplikasinya menyediakan alat, tetapi isinya tetap bergantung pada apa yang kutulis dan bagaimana aku merawat catatan tersebut.

Berbeda dari Eling

Ketertarikanku pada Obsidian juga menjadi salah satu alasan kenapa aku berhenti mengembangkan Eling, bot WhatsApp untuk reminder tugas yang pernah kubuat.

Eling fokus pada informasi yang punya tindakan dan waktu yang jelas: simpan deadline, ingatkan pada jam tertentu, atau cari link tugas. Obsidian mengarah ke kebutuhan yang berbeda. Aku mulai lebih tertarik pada cara menyimpan pengetahuan, menghubungkan ide, dan membangun catatan yang masih berguna dalam jangka panjang.

Keduanya bukan aplikasi yang benar-benar sejenis. Eling adalah eksperimen otomasi di WhatsApp, sedangkan Obsidian sekarang menjadi ruang untuk mencatat dan berpikir. Perubahan itu lebih menggambarkan arah minatku saat ini daripada menentukan aplikasi mana yang lebih baik.

Ruang Catatan yang Terus Tumbuh

Sekarang Obsidian sudah menjadi ruang yang benar-benar kupakai, bukan sekadar aplikasi yang terpasang lalu dilupakan. Catatan di dalam vault mulai membentuk struktur dan hubungan sendiri seiring pemakaian.

Aku juga tidak ingin membuat sistem yang rumit hanya supaya bisa menyebutnya second brain. Yang lebih penting adalah punya satu tempat yang bisa kubuka kembali ketika lupa, ingin melanjutkan ide, atau menemukan hubungan dengan sesuatu yang pernah kupelajari.

Strukturnya masih bisa berubah tanpa harus memulai dari nol. Bagiku, itu salah satu nilai Obsidian: sistem catatannya dapat tumbuh mengikuti cara belajar dan kebutuhanku, bukan memaksaku mengikuti bentuk yang sudah final sejak awal.