Agus Wira.
← Semua Artikel
ObsidianProduktivitasCatatan

Cara saya memakai Obsidian untuk catatan pribadi

2 mnt baca

Saya memakai Obsidian sebagai tempat untuk menyimpan catatan pribadi. Isinya cukup beragam: materi kuliah, tugas yang perlu dikerjakan beserta deadline, ide pribadi, serta catatan tentang project dan kompetisi yang sedang saya kerjakan.

Saya juga mencatat informasi sertifikat yang pernah saya dapatkan. File sertifikatnya tetap berada di Google Drive, sedangkan nama dan link-nya saya simpan di Obsidian agar lebih mudah ditemukan kembali.

Satu tempat untuk catatan pribadi

Sebelum memakai Obsidian, informasi yang ingin saya simpan tidak selalu berada di satu tempat. Sekarang saya punya satu ruang untuk menata catatan dan mencari informasi yang pernah saya simpan tanpa harus mengingat semua detailnya.

Kebiasaan itu yang membuat saya nyaman menyebut Obsidian sebagai second brain. Bagi saya, istilah tersebut tidak berarti membuat sistem catatan yang rumit. Fungsinya sederhana: menyimpan informasi di luar kepala agar bisa saya buka lagi saat dibutuhkan.

Cara Obsidian menyimpan catatan

Obsidian menyimpan catatan sebagai file teks berformat Markdown di dalam folder lokal yang disebut vault. Catatan tetap berupa file biasa, bukan data yang hanya bisa dibuka melalui satu aplikasi.

Obsidian juga memiliki internal links untuk menghubungkan satu catatan dengan catatan lain. Hubungan tersebut dapat dilihat melalui backlinks dan Graph view. Saya tidak terlalu sering memakai fitur-fitur ini. Kegunaan utama Obsidian bagi saya tetap sebagai tempat yang terpusat untuk menyimpan dan menata catatan.

Kenapa berbeda dari Eling

Ketertarikan saya pada Obsidian menjadi salah satu alasan saya berhenti mengembangkan Eling, bot WhatsApp untuk reminder tugas yang pernah saya buat.

Eling menangani informasi yang memiliki tindakan dan waktu yang jelas, seperti deadline dan reminder. Obsidian tidak memberikan reminder dengan cara yang sama, tetapi catatan yang saya simpan terasa lebih terstruktur dan mudah dicari kembali.

Keduanya tidak memiliki fungsi yang sama. Eling adalah eksperimen otomasi di WhatsApp, sedangkan Obsidian menjadi tempat saya menyimpan materi kuliah, tugas, ide, serta informasi tentang project dan kompetisi. Saat ini saya lebih membutuhkan tempat untuk menyimpan catatan tersebut, sehingga pengembangan Eling tidak saya lanjutkan.

Cara saya memakainya sekarang

Saya tidak memakai sistem yang rumit atau mengandalkan Graph view untuk menata semua catatan. Saya cukup menyimpan informasi yang kemungkinan akan dibutuhkan lagi, lalu mencarinya di Obsidian ketika perlu.

Dengan cara ini, catatan kuliah, deadline, project, kompetisi, ide pribadi, dan informasi sertifikat tersimpan dalam satu tempat.